Satu tagar dengan makna penuh visi ini sengaja saya ciptakan bareng Crew VOICE OF REGGAE untuk mengkampanyekan kepedulian pada Musik Reggae Priangan Timur.
Berawal dari satu program
yang menjadi media support musik reggae, tentu saya punya semangat
menggebu untuk memberi andil dalam membangun dan memajukan ekosistem musik reggae khususnya di daerah Priangan Timur.
Gimana ceritanya? kenapa ko harus kampanye dengan #savereggaepriatim ?
Jadi jawabannya begini, saya memilih kata itu karena kondisi. Kondisi seperti apa? Perlu kalian tau, jika di Priangan Timur ini tersimpan banyak band reggae berbakat tapi kendalanya mereka sulit mendapat ruang untuk berkreasi karena menjadi korban dari pandangan negatif masyarakat.
Mau ga mau,sebagai pegiat musik reggae kita mesti akui kalo dalam suatu event masih ada beberapa oknum yang belum juga mengerti akan caranya menikmati musik ini. Musik reggae yang sejatinya penebar perdamaian,di tiap liriknya penuh perjuangan sosial, tapi tidak difahami dengan perilaku yang baik saat menikmati musik ini.
Sekarang bahas tampilan.
Ini penting, kenapa kita tidak mencoba memahami apa yang diperjuangkan seorang Bob Marley dari nilai perjuangan tentang hidup, melawan banyak ketidakadilan dengan one love, one heart, one harmony dalam liriknya?!
Buat siapapun kalian yang punya spirit yang sama untuk memajukan musik reggae Priangan Timur, yuk bergerak bersama lakukan cara sederhana dengan penuhi linimasa (timeline) socmed kalian dengan hastag #savereggaepriatim !!
Kita kampanye bersama untuk menyelamatkan musik penuh pesan sosial ini.
Kita buktikan musik reggae adalah musik kedamaian hati tanpa membedakan warna,suku,ras,agama,status sosial!
Jah Bless!
Gimana ceritanya? kenapa ko harus kampanye dengan #savereggaepriatim ?
Mungkin pertanyaan ini muncul diantara kalian.
Jadi jawabannya begini, saya memilih kata itu karena kondisi. Kondisi seperti apa? Perlu kalian tau, jika di Priangan Timur ini tersimpan banyak band reggae berbakat tapi kendalanya mereka sulit mendapat ruang untuk berkreasi karena menjadi korban dari pandangan negatif masyarakat.
Masyarakat terlanjur mendefinisikan kalo reggae ini gimbal,lusuh,dan
identik dengan mabuk mabukan. Mereka juga menganggap pentas musik reggae selalu
jadi pemicu keributan ataupun kemaksiatan. Secara pribadi, saya tidak menyalahkan akan
definisi yang terbentuk di fikiran masyarakat ini.
Yang jadi persoalan adalah ketika pandangan negatif ini dijadikan alasan 'masyarakat' untuk menghentikan pergerakan reggae.
Lebih parah, kondisi ini diperkeruh oleh salah satu ormas yang terkesan membenci segala aktifitas musik ini. Mereka pernah sampai menggagalkan konser TONY Q, padahal musisi yang disebut Presiden Reggae Indonesia ini sangat ditunggu banget performnya di Kota Tasik.
Yang jadi persoalan adalah ketika pandangan negatif ini dijadikan alasan 'masyarakat' untuk menghentikan pergerakan reggae.
Lebih parah, kondisi ini diperkeruh oleh salah satu ormas yang terkesan membenci segala aktifitas musik ini. Mereka pernah sampai menggagalkan konser TONY Q, padahal musisi yang disebut Presiden Reggae Indonesia ini sangat ditunggu banget performnya di Kota Tasik.
Tentu ini mengecewakan semua pecinta musik reggae. Setelah itu, izin keamanan
dari pihak kepolisian sangat sulit di dapat untuk siapapun yang berniat
mengadakan event.
Saya sendiri pernah mengalami secara langsung bagaimana sulitnya meyakinkan pihak kepolisian untuk mengeluarkan izin acara yang akan saya buat.
Saya sendiri pernah mengalami secara langsung bagaimana sulitnya meyakinkan pihak kepolisian untuk mengeluarkan izin acara yang akan saya buat.
Untung saat itu bendera yang saya usung adalah organisasi
bobotoh, jadinya pihak kepolisian bisa luluh juga untuk mendukung 10 band
reggae ska Priangan Timur unjuk gigi di panggung Anniversary BOMBER
TASIK.
Meskipun tetap,saat itu saya dikasih tanggung jawab yang besar
untuk membuat acara se-kondusif mungkin.
Sebenarnya tidak berniat mau menyalahkan satu pihak, karena saya adalah tipikal orang yang tidak suka melihat sebuah persoalan dari satu sudut pandang saja.
Sebenarnya tidak berniat mau menyalahkan satu pihak, karena saya adalah tipikal orang yang tidak suka melihat sebuah persoalan dari satu sudut pandang saja.
Jika saya merasakan sendiri dampak dari pandangan negatif
masyarakat sama reggae hingga segala izin sulit, saya pun membuka mata untuk mengakui jika semua itu tidak akan muncul tanpa sebab.
Mau ga mau,sebagai pegiat musik reggae kita mesti akui kalo dalam suatu event masih ada beberapa oknum yang belum juga mengerti akan caranya menikmati musik ini. Musik reggae yang sejatinya penebar perdamaian,di tiap liriknya penuh perjuangan sosial, tapi tidak difahami dengan perilaku yang baik saat menikmati musik ini.
Teruntuk Lo (baca:oknum) yang masih suka membuat keributan, masih
terlihat minum sembarangan, coba ingat lho kalo kalian ngaku suka reggae dan
ngerasa keren dengan bilang "gue anak reggae!" saya sangat tidak setuju
kalo kalian sendiri masih suka 'make' atau minum alkohol seenaknya.
Mesti kalian fikir, kebiasaan buruk Lo itu menjadi alasan kotornya pandangan masyarakat akan genre ini. Jadi udahlah
tinggalin itu!
Sekarang bahas tampilan.
Kalo kita ambil dari lirik lagu Mas Tony Q, reggae itu gak harus gimbal.
Memang benar! Tapi buat kalian yang berpendapat jika gimbal ter-influence sang idola: BOB MARLEY. Saya juga tidak punya hak
menyalahkan. Itu hanya soal life style! come on berfikir terbuka dan stop menjudge orang dari gayanya!!!
Ini penting, kenapa kita tidak mencoba memahami apa yang diperjuangkan seorang Bob Marley dari nilai perjuangan tentang hidup, melawan banyak ketidakadilan dengan one love, one heart, one harmony dalam liriknya?!
Buat siapapun kalian yang punya spirit yang sama untuk memajukan musik reggae Priangan Timur, yuk bergerak bersama lakukan cara sederhana dengan penuhi linimasa (timeline) socmed kalian dengan hastag #savereggaepriatim !!
Kita kampanye bersama untuk menyelamatkan musik penuh pesan sosial ini.
Kita buktikan musik reggae adalah musik kedamaian hati tanpa membedakan warna,suku,ras,agama,status sosial!
Jah Bless!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar